Hubungan Jokowi dan JK Kini Memanas Setelah Muncul Kasus Ijazah
Mantan Presiden Jokowi bersama mantan Wapres Jusuf Kalla (rep)
Jakarta, Pro Legal-Kasus dugaan ijazah palsu Jokowi kian melebar dan berujung pada memanasnya hubungan antara Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK).
Mantan Wapres itu berang atas tuduhan Rismon Sianipar yang mengatakan dirinya mendanai Roy Suryo Cs untuk mempersoalkan kasus ijazah palsu Jokowi. JK juga belakangan dilaporkan oleh sejumlah pihak kepolisian atas dugaan penistaan agama terkait ceramah yang disampaikan JK di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 5 Maret 2026 lalu.
Pelapornya adalah Ketua Umum Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sahat Martin Philip Sinurat, yang juga merupakan kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) --partai yang terafiliasi dengan Jokowi. Menanggapai itu JK lantas menggelar konferensi pers di kediamannya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4) akhir pekan lalu.
Menurut mantan Ketum Golkar itu menduga laporan terhadap dirinya atas isu penistaan agama dipicu setelah dia bicara soal isu ijazah palsu Jokowi. Padahal, dia meyakini bahwa Jokowi memiliki ijazah asli sebagai lulusan UGM.
Menurut JK, laporan juga dipicu karena dirinya melaporkan Rismon Hasiholan Sianipar atas dugaan penyebaran hoaks dan berita bohong terkait ijazah Jokowi. Rismon kini berbalik arah setelah sempat menjadi pihak yang menuding ijazah palsu Jokowi. "Saya tidak menuduh politis, tapi ini kenyataannya bahwa ini timbul setelah saya mengadukan Rismon dan kedua saya mengatakan bahwa ini sudah dua tahun rakyat ini berkonflik, bertentangan, saling mengadu, saling apa itu berteriak-teriak demo. Sudahlah Pak Jokowi, sudahlah. Kasih lihat ijazah saja. Itu saja," ujar JK.
Padahal, menurut JK, nasihat itu ia sampaikan murni sebagai seorang senior. "Saya lebih tua dari dia, jadi sebagai orang yang lebih senior saya nasihati, mengerti? Banyak yang mengatakan apalagi Pak JK itu, Pak Jokowi kurang apa ke Pak JK sehingga begini? Apa saya tuduh? Enggak. Ada enggak saya tuduh? Enggak. Saya lawan enggak Pak Jokowi? Enggak," ujarnya.
Sehingga JK akhirnya meluapkan kekesalannya dengan para Termul [singkatan dari Ternak Mulyono].
Mentan Menko Kesra itu mengingatkan bahwa dirinya adalah salah satu yang membawa Jokowi ke Jakarta dari Solo untuk memenangkan kursi gubernur DKI Jakarta 2012 silam.
Menurut dia, saat itu, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menolak Jokowi. Tapi, JK mengklaim dirinya membawa Jokowi ke Megawati dan mempromosikannya sebagai 'orang baik'.
JK mengatakan setelah menang dalam Pilkada dan menjadi gubernur, Jokowi menemuinya untuk mengucapkan terima kasih. "Apa kurangnya saya coba? Saya bawa ke Jakarta," ujar JK.
"Kasih tahu semua itu termul-termul itu, Jokowi jadi Presiden karena saya. Kan tanpa Gubernur mana bisa jadi Presiden?" sambungnya dengan nada keras.
Menanggapi perseteruan itu Ketua Dewan Pengawas DPP Bara JP Utje Gustaf mengakui JK memang menjadi salah satu pihak yang mendorong Jokowi menjadi gubernur DKI Jakarta 2012.
Tetapi Utje mengingatkan dukungan JK ke Jokowi pada Pilpres2014 baru datang belakangan. "Pak JK salah satu potongan sejarah yang ikut mendorong Pak Jokowi menjadi Gubernur Jakarta 2012. Mengenai dukungan Pak JK untuk pencapresan Pak Jokowi, itu datang setelah gemuruh massa mendukung pencapresan Pak Jokowi," ujar Utje, Senin (20/4).
Utje kemudian menyinggung kembali pernyataan JK tentang Jokowi menjelang Pilpres 2014. "Bukankah sebelumnya ada statemen Pak JK bahwa 'hancur negara ini kalau Pak Jokowi jadi presiden?'. Tapi apapun itu, kami berterima kasih atas peran Pak JK, dan akhirnya menempatkan Pak JK sebagai Wapres termul pascapilpres 2014," ujarnya.
Sementara Jokowi justru santai merespons JK yang mengungkit perannya di karir politik. "Ya, saya ini bukan siapa-siapa. Saya orang kampung," ujar Jokowi, di Solo Senin (20/4). Orang tua dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka itu enggan menanggapi pernyataan JK yang menyebut negara hancur karena Jokowi menjadi Presiden. "Yang menilai bukan saya," ujar Jokowi.
Sikap berbeda diperlihatkan politikus PDIP, Guntur Romli. Dia menyatakan bahwa partainya telah tutup buku dengan Jokowi. Pihaknya mengaku tak mau lagi dikaitkan dengan bekas kadernya itu. "PDI Perjuangan sudah tutup buku dengan Pak Jokowi, sudah dipecat. Tidak mau lagi membahas dan dikaitkan dengan Jokowi," ujar Guntur, Senin (20/4).
Guntur menambahkan jika, pernyataan JK itu menyiratkan bahwa Jokowi selama ini memang banyak berkhianat terhadap orang-orang yang berperan dalam karir politiknya. Bukan hanya terhadap PDIP, namun juga orang-orang lain di luar partai. "Dari Bu Mega, Pak JK, Mas Hasto Kristiyanto, Mas Ganjar Pranowo, Mas Pramono Anung (dalam Pilkada DKI), Bu Risma, Pak Andika Perkasa, Mas FX Rudy, Pak Ahok juga dan PDI Perjuangan," ujarnya.
"Dan tidak hanya ke orang-orang PDI Perjuangan, juga pada Pak Anies Baswedan dan Pak Tom Lembong yang semuanya pernah membantu Jokowi," tambahnya.(Tim)